Hidup Berkesadaran

Di tengah riuh angin yang sejuk, pohon rindang yang meneduhkan, dan kucing-kucing yang berkeliaran. Pagi hari di kota Bandung, Astri Puji Lestari yang akrab dipanggil Atiit dalam balutan HARA, datang berkunjung ke kantor tempat bekerjanya 10 tahun lalu.

Selain bernostalgia, berbincang dengan rekan-rekannya yang masih menetap di sana, Atiit juga berbagi cerita tentang bagaimana Ia mulai mengenal hidup berkesadaran (conscious living). Apa arti hidup berkesadaran bagi Atiit?

“Setiap orang bisa punya definisi masing-masing tentang hidup berkesadaran, tergantung dia mau membuka diri ke arah mana. Tapi kalau kita ngomongin hidup ini secara holistik rasanya kita ngga akan pernah bisa misahin hidup manusia tanpa alam. Kita lari ke mana pun, ada alam lagi, alam lagi.” 

Alam yang menyediakan hampir semua kebutuhan manusia adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari diri manusia. Tanpa manusia alam masih bisa hidup. Tapi tanpa alam, apa manusia masih bisa bertahan hidup?

"Manusia dengan alam itu saling berhubungan. Menurutku manusia ngga bisa hidup tanpa alam, sebaliknya alam terbukti bisa hidup tanpa manusia. Kita bayangin aja kalau ngga ada air & hutan, otomatis ngga ada oksigen dan ngga ada makanan. Padahal itu adalah kebutuhan fundamental manusia. Manusia, termasuk aku, seharusnya 'membayar' balik kepada alam atas keuntungan yang udah kita ambil."

Keseimbangan alam yang dulu begitu terjaga, hingga hari ini kita masih bisa menikmatinya, perlahan sudah mulai menunjukkan ketidakseimbangannya.  Bagaimana cara Atiit 'membayar' balik kepada alam untuk mengembalikan keseimbangannya?

"Dalam kata 'membayar' balik sebenarnya terbagi jadi tiga; tindakan preventif supaya ngga terlalu abuse, tindakan ketika lagi menggunakan supaya lebih sadar dan tidak berlebihan, dan tindakan akhir ketika sudah rusak lalu apa yang bisa kita lakukan. Kalau apa yang aku lakuin dengan keluarga sebenarnya masih minimal. Seperti tanggung jawab sama limbah, sebelum memproduksi limbah dipikirkan kembali 'sebenarnya kita butuh ngga sih memproduksi limbah sebanyak ini?', dan lebih terbuka dengan isu-isu jejak karbon."

Tidak mudah bagi kita yang terbiasa hidup di kota dengan segala hal yang serba instan namun belum ramah dengan alam, mau memulai hidup yang harmonis dan beriringan dengan alam. Momen apa yang membuat Atiit ingin mengenal hidup berkesadaran?

"Kalau ngomongin momentum aku melihat diriku sendiri adalah orang yang dengan sengaja membuat momentum-momentum itu ada. Aku cukup oportunis dalam artian ketika melihat ‘oh ini ada opportunity untuk dijadikan momentum’ aku akan jadikan kondisi itu momentum. Contohnya, dari kecil ayah sama ibu aku terbiasa cocok tanam. Jadi aku cukup familiar dengan kompos meskipun pada saat itu kita cuman kubur aja sampah hasil panen di tanah, tanpa tahu kalau itu bagian dari mengompos. Momentum-momentum baik itu aku jadikan bekal yang nantinya akan aku lakukan lagi ke depannya."

Ketika masih sendiri mungkin lebih mudah jika kita mau melakukan segala hal yang sesuai dengan value diri kita. Berbeda ketika sudah berkeluarga, tentu banyak yang harus dikompromikan. Bagaimana cara Atiit menerapkan hidup berkesadaran dalam keluarga kecil Atiit?
       
"Ngga ada suatu patokan pasti kalau kita mau nerapin gaya hidup berkesadaran harus kayak gimana, intinya harus sadar aja. Yang saat ini aku sadari dengan kondisi aku sekarang adalah segala idealisme yang dulu ada ketika aku masih sendiri dengan realisme yang ada sekarang mungkin berbenturan. Aku punya tambahan keluarga di rumah, tambahan tanggung jawab, tambahan aktivitas, tapi waktuku masih sama 24 jam sehari. Kondisi-kondisi realisme yang berbenturan dengan idealisme itu harus disadari. Menurutku itu aja udah bentuk hidup berkesadaran. Semuanya pasti ada proses perubahan dan buat aku imperfect itu selalu loveable. Selalu ada ruang belajar dalam perubahan dan perbedaan."

 

Dampak positif apa yang Atiit rasakan setelah memulai hidup berkesadaran?

"Dampak positif yang paling utama banget, terkoneksi dengan diri sendiri. Mungkin filosofisnya hampir semua jawaban kehidupan, ada di dalam diri kita sendiri. Aku jadi sadar bahwa ada banyak sekali hal dalam diri aku yang belum aku 'sentuh'. Sebelumnya aku lebih banyak berkenalan dengan fisik aku aja, tapi ngga berkenalan dengan astral, pikiran, ego, dan batiniah aku. Ketika akhirnya belajar banyak tentang hidup berkesadaran dimulai saat aku mengenal minimalism, aku baru sadar aku 'kan seorang arsitek tapi aku belum jadi arsitek untuk diriku sendiri. Sejak itu aku mulai untuk mendesain hidupku sendiri."

[time] minutes ago
The cookie settings on this website are set to 'allow all cookies' to give you the very best experience. Please click Accept Cookies to continue to use the site.
You have successfully subscribed!
This email has been registered