Archita, dan memori pertemuannya dengan Skeleton

Archita, dan memori pertemuannya dengan Skeleton

  Pertemuan pertamaku dengan Pijakbumi dimulai tahun 2018. Pada waktu itu aku melihat salah satu temanku menggunakan Sakka Polka, spontan aku bertanya “Lucu banget! Beli dimana?” “Pijak, Chit,” jawabnya. "Pijak? Baru dengar," tanyaku heran.   Sepulang kuliah aku mencari info di Instagram dan nama yang pertama muncul “Pijakbumi”. Aku buka dan scroll feed Pijakbumi dan aku terpaku pada salah satu posting-an Pijakbumi saat rilis Sakka Skeleton. Seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, aku langsung membelinya melalui website Pijakbumi.  Setelah menunggu kurang lebih 3 hari akhirnya paket datang dan aku sangat antusias membukanya. Kebetulan saat itu aku sedang berkumpul dengan 2 orang temanku di kosan. Senang sekali rasanya, saat digunakan sepatu ini terlihat keren dan sesuai dengan gayaku.  Malam harinya langsung ku coba pakai pergi jalan-jalan bersama teman-teman. Nyaman digunakan walau sedikit kebesaran karena aku baru sadar seharusnya aku memilih satu ukuran di bawah ukuran sepatu yang biasa aku...
Admin Pijakbumi - Apr 30, 2021
Merawat, Melangkah: Mengenal Circular Fashion Dari Sosok Recycling Enthusiast

Merawat, Melangkah: Mengenal Circular Fashion Dari Sosok Recycling Enthusiast

  Intan Anggita Pratiwie, pendiri Sight From The Earth ini sudah gemar membeli baju bekas dan merombaknya menjadi pakaian baru sejak duduk di bangku kuliah. Bersama dengan Andien Aisyah, ia kemudian mendirikan Setali Indonesia sebagai social enterprise yang mengelola fashion waste dan home living waste dengan cara recycling (downcycling dan upcycling). Salah satu karyanya telah berhasil mengantarkan Intan dan Setali Indonesia ke peragaan mode Paris Fashion Week yang diselenggarakan pada bulan September 2021 mendatang.   Pijakbumi (PB): Sejak kapan Intan senang dengan dunia recycled fashion? Intan Anggita Pratiwie (IAP): Tahun 2004-2008 ketika masih kuliah di Bandung, aku suka main ke pasar Cimol di Gedebage untuk beli barang preloved—paling banyak denim lalu aku permak sendiri. Kemudian, pada tahun 2013 ada satu momen di mana aku harus berangkat ke Okinawa bersama Papajo sebagai inspiring speaker di konferensi Coastal and Marine Litter UNEP (UN Enviromental Program). Karena kebutuhan dana yang besar untuk keberangkatan...
Admin Pijakbumi - Apr 30, 2021
Merawat, Melangkah: Petani Kota

Merawat, Melangkah: Petani Kota

  Aktivitas bertani atau berkebun identik dengan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat di pedesaan. Tidak hanya masyarakat pedesaan, masyarakat kota pun sebenarnya dapat bertani untuk memenuhi kebutuhan akan bahan pangan organik dan sehat. Namun, pertumbuhan jumlah masyarakat dan keterbatasan lahan di perkotaan, memantik masyarakat perkotaan untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan halaman belakang atau atap tempat tinggal masing - masing. Kebiasaan masyarakat kota untuk memproduksi bahan pangan organik secara mandiri dapat dimulai dengan meninggalkan gawai sejenak dan mengambil sekop untuk kembali bertanam di sudut - sudut kecil tempat tinggal kita. Tumbuh dari tempat pembuangan sampah di pinggir selatan kota Jakarta, Kebun Kumara mengubah tempat terlantar di tengah area rekreasi Pulau Situ Gintung menjadi kebun yang memproduksi bahan makanan secara mandiri—ekosistem yang baik untuk pertumbuhan tanaman dan aktivitas cacing yang bermukim dapat menyuburkan tanah.Kebun Kumara lahir dari kegelisahan akan gaya hidup masyarakat perkotaan yang katanya ‘terdidik’ tetapi justru tidak dapat merawat alam...
Admin Pijakbumi - Apr 30, 2021
Merawat, Melangkah: Berbelanja dengan Sadar

Merawat, Melangkah: Berbelanja dengan Sadar

Kebiasaan untuk membeli barang baru sering kali melekat dengan momen ketika menyambut hari raya, ulang tahun, dan momen penting lainnya. Ada pula yang merasa perlu mengapresiasi diri dengan membeli barang yang disukai ketika berhasil mencapai target atau ketika sedang dilanda kesedihan yang mendalam. Pada tahun 2014, sebuah penelitian menunjukkan bahwa kecanduan berbelanja berkaitan erat dengan depresi. Dalam kasus ini, kecanduan berbelanja berasal dari kebutuhan neurologis dan emosional dimana kadar serotonin dan dopamin meningkat dan menimbulkan perasaan bahagia setelah membeli barang baru. Selain perasaan bahagia, rasa percaya diri ikut meningkat apalagi jika barang tersebut dibeli dengan harga yang tidak murah. Tanpa disadari, kepercayaan diri pun mulai dikendalikan oleh barang apa yang digunakan. Lalu, apa jadinya jika barang yang diinginkan tidak lagi didapat dengan mudah? Tidak ada yang salah dengan membeli barang baru apalagi jika kita memerlukan barang tersebut. Lain halnya dengan hanya mengikuti keinginan sesaat, tidak pernah tahu kapan cukup adalah cukup;...
Admin Pijakbumi - Apr 30, 2021
loader
Showing 1 - 4 of 5 results

Featured Articles

Tags